PRIDE HOMESCHOOLING

Jl.Markisa Blok A no. 11 Cinere Depok (021)754-555-8

PRIDE HOMESCHOOLING

Dengan mencari dan Berspekulasi maka kita akan belajar dan mendapatkan hal-hal yang baru

PRIDE HOMESCHOOLING

Jadikan buku adalah sahabat karibmu karena ia akan membimbingmu kearah kebaikan.

PRIDE HOMESCHOOLING

Pengetahuan akan membawa kita kepada kesempatan untuk membuat perbedaan

PRIDE HOMESCHOOLING

Menuliskan impian dan cita2mu secara tertulis terbukti membantu kamu untuk bisa mewujudkannya. So write down your dreams. Now!!!.

contact

foxyform

Selasa, 21 Agustus 2018

PENYEBAB SESEORANG SULIT BERGAUL

             Bagi para orangtua, mari kenali penyebab seorang anak sulit bergaul

                Gambar terkait
  1. Kepribadian yang tertutup (introvert)
    Penyebab seseorang sulit bergaul yang pertama adalah kepribadian yang tertutup (introvert). Kepribadian ini seringkali terjadi karena faktor genetik, yakni diturunkan dari orang tua terhadap anaknya. Meskipun demikian tidak menutup kemungkinan kepribadian introvert bisa diubah asalkan ada niat dan kemauan untuk mengubah kepribadian itu sendiri.
  2. Kepribadian yang cenderung kaku
    Penyebab seseorang sulit bergaul yang kedua adalah kepribadian yang cenderung kaku. Biasanya kepribadian ini ditandai dengan ketidakmampuan dalam memulai percakapan, kurang bisa menyesuaikan pembicaraan dengan orang lain, kurang bisa menyesuaikan diri terhadap lingkungan dan sebagainya.
  3. Rasa rendah diri
    Penyebab seseorang sulit bergaul yang selanjutnya adalah rasa rendah diri. Rasa rendah diri atau minder akan membuat seseorang merasa dirinya lebih rendah dari orang lain. Akibatnya ia tidak memiliki keberanian untuk bergaul atau berteman dengan orang lain.
  4. Tidak percaya diri
    Penyebab seseorang sulit bergaul yang berikutnya adalah tidak percaya diri. Ketidakpercayaan akan kemampuan diri dalam bergaul dengan orang lainlah yang menyebabkan seseorang akhirnya benar-benar menyebabkan seseorang sulit bergaul.
  5. Fobia sosial
    Fobia sosial adalah penyebab seseorang sulit bergaul selanjutnya. Fobia sosial ini terjadi karena ada faktor traumatik akan kejadian dimasa lalu yang menyebabkan seseorang menjadi takut untuk bergaul dengan orang lain. Contoh penyebab fobia sosial antara lain masa kecil yang sering diejek dan dihina teman-teman dan lain-lain.
  6. Lingkungan yang tertutup
    Lingkungan yang tertutup menjadi penyebab seseorang sulit bergaul berikutnya. Lingkungan yang tertutup menyebabkan tidak adanya kesempatan untuk bergaul dengan orang-orang disekitar. Lingkungan yang tertutup inilah yang pada akhirnya bisa menyebabkan seseorang yang seharusnya pandai bergaul menjadi kesulitan dalam bergaul.
  7. Memiliki gangguan emosional
    Penyebab seseorang sulit bergaul selanjutnya adalah adanya gangguan emosional dalam diri seseorang. Gangguan emosional ini menyebabkan seseorang mengalami kesulitan dalam mengontrol dan mengendalikan emosi yang pada akhirnya membuat seseorang dijauhi orang lain dan kesulitan dalam bergaul.
  8. Kebiasaan yang telah tertanam dalam pikiran bawah sadar
    Penyebab seseorang sulit bergaul yang terakhir adalah kebiasaan yang telah tertanam dalam pikiran bawah sadar. Kebiasaan seperti rasa minder, malu dan tidak percaya diri yang pada akhirnya menyebabkan kesulitan dalam bergaul telah tertanam dalam pikiran bawah sadar. Saat sesuatu telah tertanam dalam pikiran bawah sadar, maka secara otomis kebiasaan tersebut akan dilakukan tanpa sadar.
Itulah 8 penyebab seseorang sulit bergaul. Jika Anda atau anak Anda termasuk orang yang juga mengalami kesulitan dalam bergaul, segera hilangkan kebiasaan Anda tersebut. Tidak mudah memang. Karena sebenarnya orang yang sulit bergaul juga memiliki keinginan agar lebih mudah bergaul dengan orang lain.

Rabu, 15 Agustus 2018

Kegiatan Outbound Pride Homeschooling

Pengertian Outbound
Outbound adalah suatu bentuk dari pembelajaran segala ilmu terapan yang disulasikan dan dilakukan di alam terbuka atau tertutup dengan bentuk permainan yang efektif, yang menggabungkan antara intelegensia, fisik dan mental.
                 


Tujuan outbound:    
  1. Team building
    Team building adalah bentuk dari peningkatan hubungan kerjasama, solid, sinergi  dan  kekompakan tim atau kelompok.
  2. Team work
    Team work adalah suatu bentuk kerjasama tim untuk mencapai tujuan bersama
  3. Komunikasi.Komunikasi adalah suatu proses dan tata cara menyampaikan informasi yang tepat kepada seseorang maupun kelompok.
  4. Leadhersip
    Leadership adalah kekuatan proses dalam mempengaruhi seseorang atau kelompok untuk mencapai tujuan yang di inginkan.
  5. Konsentrasi
    Kosentrasi adalah proses peningkatan daya fokus dan daya ingat fikiran seseorang terhadap sesuatu.
  6. Kreatifvitas
    Kretivitas adalah suatu proses peningkatan suatu daya cipta atau ide baru untuk dikembangkan.
  7. Strategi Planning
    Strategi planning adalah suatu perencanaan dari segi manajemen untuk mencapai sasaran atau tujuan.
  8. Analisis
    Analisis adalah kemampuan untuk menelaah dan menyelidiki sesuatu sehingga mudah dipahami dan dipecahakan.
  9. Conviden
    Covidence adalah peningkatan percaya diri terhadap kemampuan yang di milikinya.

Manfaat outbound:
  1. Menjalin Silahturohmi
  2. Melepas penat atau kejenuhan rutinitas
  3. Mendapatkan ilmu materi yang diisipkan dalam permainan outbound
  4. Lebih mengenal lingkungan
  5. Membangun percaya diri
  6. Menganalisa kemampuan seseorang untuk keperluan manajemen

Jumat, 20 Juli 2018

Mengapa anak sulit konsentrasi? Kenali 3 macam gaya belajar pada anak

Sulit Konsentrasi dan Gaya Belajar 
Dari cara memasukkan informasi ke dalam otak, melalui lima indera, kita mengenal ada lima gaya belajar: visual (penglihatan), auditori (pendengaran), tactile/kinestetik (perabaan/gerakan), olfaktori (penciuman), dan gustatori (pengecapan). Sebenarnya masih ada satu lagi cara memasukkan informasi ke otak yaitu melalui pikiran atau imajinasi. Namun ini jarang atau hampir tidak pernah dibahas di literatur yang pernah saya baca atau pelajari. 
Dalam konteks belajar bahan ajar, yang paling sering digunakan hanya tiga cara yaitu visual (27%), auditori (34%), dan tactile/kinestetik (39%). Apa saja yang perlu diketahui orangtua dan guru mengenai gaya belajar ini? 
Biasanya kita punya dua gaya belajar dominan. Misalnya, visual dan auditori, atau visual dan tactile/kinestetik, atau auditori dan tactile/kinestetik. Namun, ada juga yang dominan hanya di satu gaya belajar. 
Anak visual belajar dengan cara melihat, membaca, baik itu buku, brosur, internet, poster, mindmap, atau apa saja yang dapat dilihat atau dibaca. Anak ini dapat duduk diam memerhatikan guru atau orangtua, dan cenderung suka mencoret-coret. 
Anak auditori belajar dengan pendengaran, lebih suka dengar cerita daripada membaca sendiri. Anak tipe ini yang biasanya suka belajar sambil ditemani ibunya. Ibu membacakan materi pelajaran, anak duduk santai atau berbaring, dan ia belajar dengan mendengar. Dan saat dites, ia bisa. Anak auditori biasanya butuh kondisi tenang untuk dapat belajar. Bila belajar sendiri, ia akan membaca dengan mengeluarkan suara agar dapat mendengar apa yang ia pelajari. 
Anak tactile/kinestetik belajar melalui gerakan, sentuhan, berjalan, dan mengalami. Anak ini yang biasanya dicap sebagai anak hiperaktif karena tidak bisa duduk diam dalam waktu lama. Cara belajar efektif untuk anak ini melibatkan gerakan seperti manipulasi objek, membuat model, menggunting, menggarisbawahi, membuat mindmapping, atau apa saja yang mengandung gerak. Bila mereka tidak mendapat kesempatan bergerak dan dipaksa duduk diam, pikirannya yang akan bergerak ke sana ke mari. Dan ini yang disebut dengan tidak bisa konsentrasi. 
Dari tiga jenis gaya belajar, dapat disimpulkan bahwa yang paling berpontensi menjadi anak “bermasalah” di sekolah adalah anak kinestetik karena sulit duduk diam. Guru mengajar dengan cara visual dan auditori. Ini tidak dapat mengakomodasi kebutuhan gerak anak kinestetik. Bila anak banyak bergerak, guru biasanya akan menegur atau memarahi si anak dan akhirnya beri label “hiperaktif”, “sulit konsentrasi”, “ADD” atau “ADHD”. Semakin anak diminta diam memerhatikan pelajaran, semakin ia merasa gelisah. Konsentrasinya digunakan untuk mengendalikan tubuhnya supaya tidak bergerak, agar tidak dimarahi guru, dan bukan untuk memerhatikan pelajaran. 
Solusinya? Beri anak kesempatan untuk bergerak saat belajar atau memasukkan informasi ke dalam otaknya. Jangan paksa anak duduk diam, tidak boleh bergerak, apalagi dalam waktu lama. Dalam belajar, libatkan anak dalam aktivitas banyak gerak.