Cara Menghadapi Anak yang Suka Berbohong
Agar tidak terlambat menangani kebiasaan buruk ini, berikut adalah
langkah cerdas membongkar kebohongan anak. Mama bisa ikuti tips berikut agar si Kecil mau mengakui kebohongannya tanpa merasa tertekan.
1. Hindari interogasi berlebihan
Meski
Mama sudah tahu bahwa si Kecil berbohong, hindari menginterogasi
berlebihan. Jangan memaksanya langsung mengakui saat itu juga. Akan
lebih baik lagi jika Mama menyiapkan bukti, sebelum memaksa si Kecil
mengaku.
Ia akan malu ketika melihat barang bukti dan mengaku
dengan sendirinya. Interogasi yang berlebihan justru membuatnya tertekan
dan takut. Bukannya jera, ia malah tergerak untuk melakukan kebohongan
berikutnya.
2. Tanyakan secara berulang
Ketika
Mama melakukan interogasi, hindari menggunakan kalimat dan nada bicara
kasar. Tanyakan tentang kebohongannya secara bertahap dan berulang.
Dari
situ bisa diamati bagaimana ia menjawab pertanyaan Mama. Orang yang
berbohong cenderung memberi jawaban panjang dan berbelit, atau berbeda
dengan sebelumnya.
3. Amati ekspresi wajahnya saat menjelaskan
Ekspresi
wajah seseorang, khususnya mata, paling tidak bisa berbohong saat
menyembunyikan sesuatu. Mama bisa jadikan ini senjata ampuh. Ketika
melakukan interogasi, amati bagaimana wajahnya saat menanggapi. Apakah
ia lebih banyak menunduk atau buang muka, lalu matanya membalas tatapan
mata Mama atau tidak.
Seseorang yang tengah berbohong cenderung
menghindari adu tatap dengan lawan bicara. Ia lebih memilih menunduk
atau buang muka, agar ekspresi asli wajahnya tidak nampak. Kalau si
Kecil sudah menunjukkan ekspresi seperti ini, pancing lebih dalam dengan
“Sayang, kok lagi diajak ngomong kok gak berani liat mata Mama sih?”
4. Pancing sengan cerita
Ini
bisa menjadi cara ampuh untuk membuat si Kecil mengaku. Anak-anak
selain suka berbohong juga masih mudah dibohongi. Ungkap kebohongannya
dengan cerita bohong yang terasa meyakinkan.
Buat cerita begini:
“Kemarin
anak teman Mama ada yang bohong. Dia ngaku dapat nilai 10 padahal
aslinya 5. Tapi pas ketahuan, Mamanya gak marah. Karena mamanya sayang
sama dia. Jadi dia janji deh, gak akan bohong lagi. Soalnya kalau bohong
terus bikin Mamanya sedih.”
Padalah, Mama tidak memiliki
teman yang baru saja dibohongi anaknya. Tapi cerita itu bisa membuat si
Kecil merasa bersalah dengan sendirinya, dan tidak takut untuk mengaku.
Lain halnya kalau Mama memilih jalan memarahinya atau menegur secara
tegas. Perlakuan ini bisa saja membuat anak kembali melakukan kebohongan
lain.
5. Kenali kemungkinan penyebabnya
Setelah
melakukan pendekatan personal, Mama tetap harus mencari tahu penyebab
kebohongan si Kecil. Sekalipun ia sudah mengakui dan berjanji tidak akan
mengulanginya lagi. Dengan Mama mengetahui sebabnya, bisa diantisipasi
agar kebohongan tersebut tidak terulang.
Bisa jadi penyebab
kebohongannya adalah pola asuh Mama yang sering membuatnya takut atau
merasa banyak dituntut. Kemungkinan lainnya, ia sedang bermasalah dengan
temannya di sekolah atau meniru kebiasaan buruk orang lain.
6. Hindari melanggar janji
Anak
tidak akan melakukan kebohongan jika orangtua mengajarkan kejujuran.
Jadi, sangat penting mengajarkan anak untuk bersikap jujur dengan
memberikannya panutan bahwa orangtuanya tidak pernah melanggar janji.
Misalnya,
saat mendekati ulangan Mama atau Papa menjanjikan akan membelikannya
hadiah jika anak mendapat nilai terbaik, namun saat anak menyanggupi
syarat tersebut orangtua tidak memberikan hadiah yang dijanjikan.
Ini
akan membuat anak kecewa dan menganggap kalau kebohongan adalah hal
yang wajar dilakukan karena orangtuanya sering melanggar perjanjian yang
disepakati.
Nah Ma, itu dia cara menghadapi anak yang sedang
berbohong. Kebiasaan berbohong biasanya ditiru dari orang terdekatnya.
Jadi pastikan untuk menjauhkan kebiasaan berbohong mulai dari keluarga
agar si Kecil tumbuh menjadi anak yang jujur dan nggak suka berbohong.
Sumber referensi : popmama.com