PRIDE HOMESCHOOLING

Jl.Markisa Blok A no. 11 Cinere Depok (021)754-555-8

PRIDE HOMESCHOOLING

Dengan mencari dan Berspekulasi maka kita akan belajar dan mendapatkan hal-hal yang baru

PRIDE HOMESCHOOLING

Jadikan buku adalah sahabat karibmu karena ia akan membimbingmu kearah kebaikan.

PRIDE HOMESCHOOLING

Pengetahuan akan membawa kita kepada kesempatan untuk membuat perbedaan

PRIDE HOMESCHOOLING

Menuliskan impian dan cita2mu secara tertulis terbukti membantu kamu untuk bisa mewujudkannya. So write down your dreams. Now!!!.

contact

foxyform

Jumat, 21 Juni 2019

Setiap Anak pada Dasarnya Cerdas

Setiap Anak pada Dasarnya CerdasHasil gambar untuk Setiap Anak pada Dasarnya Cerdas

Business Unit Head Nutrition for Kids Kalbe Nutritionals, Helly Oktaviana, mengatakan, anak ibaratnya jari-jari tangan. Kita manusia sepuluh jari tangan, tapi setiap jari punya karakternya masing-masing. Sama halnya dengan anak, jika disandingkan dengan teman-teman sebayanya, setiap anak berbeda walaupun berada dalam tahap usia yang sama.

Karena itu, pemilihan stimulasi atau pun kegiatan tambahan di luar sekolah untuk setiap anak tidak bisa disamakan. Mengetahui dan memahami potensi si kecil juga merupakan langkah awal dalam membesarkan dan membantunya berkembang sesuai dengan kepribadian/kecerdasan uniknya.
“Karena, mengenali potensi si kecil sejak dini membantu pengembangan karakter dan rasa percaya dirinya dalam menghadapi tantangan global nantinya,” jelas dia.

Berangkat dari pemahaman tersebut, pihaknya menghadirkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai konsep kecerdasan majemuk (multiple intelligence). Hal itu tertuang dalam Modul Multiple Intelligence PlayPlan, atau MI PlayPlan yang merupakan persembahan Morinaga.
Menurut dia, kecerdasan majemuk telah menjadi pengetahuan umum bagi para orang tua sekarang.

Setiap anak pun menyimpan kecerdasannya masing-masing. Awalnya, kecerdasan hanya dikonotasikan dengan nilai kecerdasan otak (intelligence quotient/IQ).
Namun, Dr Howard Gardner, pakar psikologi dari Harvard, memperkenalkan teori kecerdasan baru, yaitu multiple intelligence. Dia percaya adanya berbagai kecerdasan lain yang dimiliki oleh si kecil, sehingga setiap anak dipastikan cerdas dan unik.

Sumber: Investor Daily

Kamis, 23 Mei 2019

Tips Mendidik Anak Remaja yang Beranjak Dewasa






Mendidik anak remaja yang beranjak dewasa memang tidak mudah, tetapi bukan mustahil. Dengan cara yang tepat, anak akan menjadi pribadi yang hebat di masa mendatang. Namun, untuk menaklukkan anak remaja tidaklah mudah.

Mengingat masa remaja adalah masa peralihan. Di mana sebagian besar anak akan melakukan pemberontakan dan kenakalan remaja.
Berikut kami bagikan sejumlah tips mudah mendidik anak remaja di bawah ini.

Bebaskan Anak untuk Bersosialisasi dengan Lingkungan

Ketika anak sudah memasuki usia remaja, anak akan senang mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Mereka lebih asyik dengan teman-teman sekolah atau bermain di luar rumah ketimbang menghabiskan waktu bersama Anda.

Dengan bersosialisasi anak akan belajar hal baru, melatih sikap kepemimpinan, dan cara mengambil keputusan yang tepat ketika mereka terkena masalah. Anak pun akan lebih mandiri.

Jadikan diri Anda sebagai Teman

Mulailah masuki dunia anak remaja, pahami apa yang sedang menjadi tren dan pelajari mengenai psikologis mereka. Hal ini akan memudahkan Anda untuk mendidik anak remaja. Nah, agar Anda tidak berjarak dengan anak, cara terbaik adalah menjadikan diri Anda sebagai teman, bukan sebagai orang tua. Teman adalah sosok yang akan dicari oleh anak untuk sekadar berkeluh kesah.

Dengan menjadi teman bagi buah hati, Anda dapat melakukan pemantauan, memberikan masukan tanpa terkesan menggurui, dan mengontrol tumbuh kembangnya.  Manfaat lainnya, Anda dan anak akan menjadi lebih dekat karena sering menghabiskan waktu bersama.

Berikan Kepercayaan dan Tanggung Jawab

Peran orang tua memang penting, tetapi jangan selalu mengarahkan anak untuk mengikutinya kemauan Anda. Biarkan anak untuk mencoba sesuatu atau memutuskan sesuatu untuk dirinya sendiri. Beri mereka kepercayaan dan tanggung jawab agar mereka bisa lebih mandiri dan tidak selalu bergantung pada Anda.

Hal ini sangat bermanfaat bagi anak ketika sudah dewasa. Selain memberikan kepercayaan dan tanggung jawab ini, beri juga rambu-rambu yang tidak boleh dilewati si anak. Misalnya mereka boleh pergi bersama teman untuk bermain sampai malam, tapi Anda juga harus memberikan tanggung jawab pada anak untuk pulang tepat waktu. Ini merupakan salah satu cara mendidik anak remaja yang efektif.

Hargai Minat dan Pemikiran Anak

Pemaksaan terhadap anak hanya akan membuat ia merasa tertekan dan bahkan melakukan hal buruk, seperti kenakalan remaja.Dalam kondisi seperti ini, sebaiknya biarkan anak untuk berani mengemukakan pendapat mereka. Hargai pemikiran dan pendapatnya.

Dengan cara ini, anak lebih mengerti dan menghormati Anda. Hubungan Anda dan anak pun semakin harmonis. Jangan menentukan masa depannya, tapi arahkan mereka dengan menghargai setiap minat dan bakat si anak.

Ajarkan Pendidikan Agama

Agama menjadi hal penting bagi keluarga. Terapkan pendidikan agama sedini mungkin agar anak tidak terjerumus pada pergaulan yang salah. Bagaimanapun pendidikan agama adalah fondasi yang kuat bagi karakter seseorang.

Dengan mengikuti sejumlah tips mendidik anak remaja di atas, Anda tidak akan kesulitan dalam mendidik anak remaja. Selamat mencoba...

Sumber Ref.: educenter.id

Senin, 20 Mei 2019

Macam-macam Pola Asuh Orangtua kepada Anak

Ada 6 Macam Pola Asuh Orangtua kepada Anak

Gambar terkait


Pola asuh dapat didefinisikan sebagai pola interaksi antara anak dengan orangtua yang meliputi pemenuhan kebutuhan fisik, kebutuhan psikologis, serta sosialisasi norma-norma yang berlaku di masyarakat agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungannya.

Berikut 6 macam pola asuh orang tua kepada anaknya, yang dirangkum dari beberapa sumber:

1. Pola asuh otoriter
Pola asuh otoriter adalah pola pengasuhan anak yang bersifat pemaksaan, keras dan kaku di mana orangtua akan membuat berbagai aturan yang saklek harus dipatuhi oleh anak-anaknya tanpa mau tahu perasaan sang anak. Orangtua akan emosi dan marah jika anak melakukan hal yang tidak sesuai dengan yang diinginkan oleh orangtuanya.

Hukuman mental dan fisik akan sering diterima oleh anak-anak dengan alasan agar anak terus tetap patuh dan disiplin serta menghormati orangtua yang telah membesarkannya.

Anak yang besar dengan teknik asuhan anak seperti ini biasanya tidak bahagia, paranoid atau selalu berada dalam ketakutan, mudah sedih dan tertekan, senang berada di luar rumah, benci orangtua, dan lain-lain. Namun di balik itu biasanya anak hasil didikan orangtua dengan pola asuh otoriter lebih bisa mandiri, bisa menjadi orang sesuai keinginan orangtua, lebih disiplin dan lebih bertanggungjawab dalam menjalani hidup.

2. Pola asuh demokratis
Pola asuh ini merupakan pola asuh yang paling baik. Dimana orangtua bersikap friendly dan anak bebas mengemukakan pendapatnya. Disini orangtua lebih mau mendengar keluhan dari anaknya, mau memberikan masukan.

Ketika anaknya diberi hukuman, orangtua menjelaskan kenapa dia harus dihukum. Pola asuh ini tidak banyak dimiliki oleh orangtua zaman sekarang.

Orang tua lebih mengajarkan anak untuk lebih baik, misalnya mengetuk pintu sebelum masuk rumah dan menjelaskan kenapa harus melakukan hal seperti itu.

3. Pola asuh temporizer

Temporizer ini merupakan pola asuh yang sangat tidak konsisten. Dimana orangtua tidak memiliki pendirian. Contoh dari pola asuh ini seperti, anak yang diberikan batas waktu pulang malam sekitar jam 10. Terkadang orang tuanya tidak memarahi anaknya, jika anaknya pulang lebih lama dari itu, tapi terkadang juga orang tua marah besar kepada anaknya jika lewat pada waktunya. Ini dapat membuat anak bingung.

4. Pola asuh appeasers

Appeasers ini merupakan pola asuh dari orangtua yang sangat khawatir akan anaknya, takut terjadi sesuatu yang tidak baik pada anaknya (overprotective).

Contohnya, orangtua memarahi anaknya jika bergaul dengan anak tetangga. Karena takut menjadi tidak benar. Orangtua tidak mengizinkan anaknya untuk berpergian tanpa didampingi oleh orangtua, karena takut terjadi yang tidak diinginkan. Ini membuat anak menjadi tidak bebas.

5. Pola asuh permisif
Tipe orangtua yang mempunyai pola asuh permisif cenderung selalu memberikan kebebasan pada anak tanpa memberikan kontrol sama sekali. Anak sedikit sekali dituntut untuk suatu tangung jawab, tetapi mempunyai hak yang sama seperti orang dewasa.

Anak diberi kebebasan untuk mengatur dirinya sendiri dan orangtua tidak banyak mengatur anaknya. Orangtua permisif memberikan kepada anak untuk berbuat sekehendaknya dan lemah sekali dalam melaksanakan disiplin pada anak.

Pola asuhan permisif bercirikan adanya kontrol yang kurang, orangtua bersikap longgar atau bebas, bimbingan terhadap anak kurang. Ciri pola asuh ini adalah semua keputusan lebih banyak dibuat oleh anak daripada orangtuanya.

6. Pola asuh otoritatif
Pola asuh otoritatif adalah pola asuh orangtua pada anak yang memberi kebebasan pada anak untuk berkreasi dan mengeksplorasi berbagai hal sesuai dengan kemampuan anak dengan sensor batasan dan pengawasan yang baik dari orangtua. Pola asuh ini adalah pola asuh yang cocok dan baik untuk diterapkan para orangtua kepada anak-anaknya.

Anak yang diasuh dengan tehnik asuhan otoritatif akan hidup ceria, menyenangkan, kreatif, cerdas, percaya diri, terbuka pada orangtua, menghargai dan menghormati orangtua, tidak mudah stres dan depresi, berprestasi baik, disukai lingkungan dan masyarakat dan lain-lain.