PRIDE HOMESCHOOLING

Jl.Markisa Blok A no. 11 Cinere Depok (021)754-555-8

PRIDE HOMESCHOOLING

Dengan mencari dan Berspekulasi maka kita akan belajar dan mendapatkan hal-hal yang baru

PRIDE HOMESCHOOLING

Jadikan buku adalah sahabat karibmu karena ia akan membimbingmu kearah kebaikan.

PRIDE HOMESCHOOLING

Pengetahuan akan membawa kita kepada kesempatan untuk membuat perbedaan

PRIDE HOMESCHOOLING

Menuliskan impian dan cita2mu secara tertulis terbukti membantu kamu untuk bisa mewujudkannya. So write down your dreams. Now!!!.

contact

foxyform

Senin, 06 November 2017

Solusi saat anak tidak mau sekolah

Solusi saat anak tidak mau sekolah 

Sikap anak terkadang membuat orangtua khawatir, apalagi saat dia tak mau sekolah. Penyebabnya bisa berasal dari dirinya sendiri atau dari luar, yakni lingkungannya. Orangtua harus mencari solusi untuk membuatnya mau sekolah lagi.

Memang, tak mudah untuk membuat anak mau bersekolah lagi. Ibu harus sabar dan mencari solusi tepat untuk masalah ini. Terkadang, ibu membutuhkan bantuan orang lain untuk membuat anak mau bersekolah lagi. Tak perlu bersikap kasar kepadanya, karena bisa membuatnya semakin takut dan tak mau bersekolah lagi. 


Cara-cara dengan kelembutan dan perhatian mungkin lebih tepat dilakukan untuk membuatnya mau bersekolah. Solusi berikut ini mungkin bisa ibu lakukan saat anak tak mau bersekolah.



  • Dekati anak dan dengarkan keluh kesahnya
  • Ajak anak berdiskusi untuk mengidentifikasi masalah
  • Tanyakan cita-citanya
  • Melibatkan guru wali kelasnya
  • Berikan motivasi ketika anak mulai sadar untuk bersekolah
Sebenarnya, kasus anak tak mau bersekolah ini bisa disebabkan oleh beberapa hal. Penyebab ini bisa berasal dari dirinya sendiri (internal) dan dari luar dirinya (eksternal). Penyebab yang berasal dari diri anak, misalnya sakit, malas, atau karena lelah. Sementara itu, penyebab yang berasal dari luar dirinya, yakni lingkungannya, misalnya dijauhi teman, pelajaran sekolah yang sulit untuk diikuti, takut dengan seseorang, guru yang kurang jelas dalam menerangkan, dan lain-lain.

Jika masih kebingungan, kami dari pihak Pride Homeschooling siap membantu dalam menangani kasus diatas,info selengkapnya hubungi 021-754-555-8 

Minggu, 05 November 2017

Yuk!, Belajar Desain Grafis di Pride Homeschooling

Belajar desain grafis mendatangkan banyak manfaat khususnya bagi mereka yang memang menyukai seni. Apa saja manfaat belajar desain grafis?
 1. Mempercepat proses pekerjaan dengan cara menyajikan suatu pekerjaan dalam bentuk grafis.
Contoh pekerjaan yang paling mudah adalah proposal. Tidak perlu menyusun dalam format seperti laporan dengan banyak tulisan. Cukup poin – poin penting yang ingin disampaikan dan dibuat dalam bentuk desain yang menarik dan atraktif.
2. Memperkenalkan kepada masyarakat luas tentang program aplikasi desain grafis.
Tidak banyak orang awam yang bisa mengoperasikan aplikasi desain grafis. Dengan membuat pelatihan program aplikasi desain grafis, lulusan sekolah atau kursus desain dapat memperkenalkan program aplikasi desain grafis lebih luas lagi.
3. Mempersiapkan masyarakat agar dapat memahami dengan mudah pesan – pesan yang disampaikan dalam bentuk grafis.
Untuk memahami suatu karya seni memang dibutuhkan suatu sense. Jika tidak ada sense tersebut maka pesan dalam bentuk grafis belum tentu dapat dicerna dengan baik mengingat persepsi setiap orang berbeda – beda. Karena itu, belajar desain grafis dapat membantu lulusannya untuk mengerti pesan dari bentuk grafis tersebut.

Mau belajar desain grafis tapi bingung cari lokasi yg tepat dimana?
Mau mahir desain grafis tapi tidak perlu terlalu lama wktunya?
Mau mahir desain grafis tapi tidak ada waktu karena sekolah sampai sore?

Temukan solusinya di kelas desain Pride Homeschooling Cinere
Kepoin info lebih lanjutnya yu di 08119916526 kak budi

Kamis, 02 November 2017

Sejarah Homeschooling di Indonesia

Sekilas tentang sejarah homeschooling di Indonesia

Sistem persekolahan di Indonesia mulai berkembang awal 20, saat Belanda mengembangkan kebijakan politik etis sebagai balas budi terhadap negara jajahannya di Hindia Belanda yang berfokus pada 3 hal, yaitu: Irigasi, Emigrasi, dan Edukasi. Sekolah-sekolah mulai dibangun di Indonesia baik untuk kaum priyayi maupun rakyat biasa dengan tujuan utama untuk mendapatkan tenaga administrasi yang cakap dan murah.

Tapi kesadaran baru hasil proses pendidikan Belanda tak hanya mengikuti pola yang diinginkan Belanda. Kesadaran baru dari masyarakat Indonesia yang terdidik kemudian melahirkan model-model pendidikan alternatif yang berbeda dengan yang dikembangkan Belanda.

Ki Hadjar Dewantara mengembangkan Perguruan Taman Siswa di Jawa Tengah pada 1922. Muhammad Sjafei mengembangkan INS Kayutanam di Padang Pariaman, Sumatera Barat pada 1926. Selain itu, ada KH Agus Salim yang memilih tidak menyekolahkan anak-anaknya dan belajar secara otodidak di rumah.

Pasca kemerdekaan, homeschooling mungkin dipraktekkan oleh keluarga-keluarga di Indonesia. Tapi karena ketiadaan data, tak banyak jejak yang bisa diperoleh tentang sejarah homeschooling di Indonesia di masa ini.

Di era 70-an, salah satu tokoh publik yang dikenal menjalani homeschooling adalah Said Kelana seorang pemusik, yang tidak menyekolahkan anak-anaknya. Anak-anaknya: Idham Noorsaid, Iromy Noorsaid, Lydia Noorsaid, dan Imaniar Noorsaid belajar musik dan menekuni dunia musik.

Seiring perkembangan Internet, keterbukaan informasi membuat informasi tentang homeschooling semakin terbuka. Para pelajar Indonesia yang bersekolah di luar negeri, terutama di Amerika Serikat, mulai terpapar dengan gagasan dan praktik homeschooling. Banyak keluarga yang mulai belajar dan mempraktekkan homeschooling untuk anak-anaknya.

Forum milis SekolahRumah pada 2007 menjadi simpul belajar tentang homeschooling secara online sekaligus sarana berjejaring diantara para praktisi homeschooling Indonesia. Apalagi, beberapa keluarga praktisi homeschooling Indonesia mulai membuat blog untuk mendokumentasikan praktik homeschooling yang dijalaninya dan sekaligus merupakan edukasi tentang homeschooling bagi masyarakat.

Di era media sosial saat ini, para praktisi homeschooling biasa berkegiatan mandiri. Beberapa diantaranya membentuk komunitas yang menjadi support grup tempat berkegiatan homeschooling seperti Klub Oase & Belajar Bersama di Jakarta, Kerlap di Depok, Pijar di Tangerang Selatan, Kabeh Mesem di Semarang, Seduluran Homeschooling Surabaya, dll.

Selain itu, ada komunitas-komunitas homeschooling berbasis agama seperti HSMN (Homeschooling Muslim Nusantara), HSKM (Homeschooling Keluarga Muslim), dll. Di luar itu, banyak praktisi homeschooling yang merintis komunitas dan melakukan kegiatan bersama walaupun kelompoknya tak diberi nama tertentu.


Sumber Referensi : Berbagai situs